Sapker
21 | Laki-laki | Manusia
by : Xentra
21 | Laki-laki | Manusia
by : Xentra
Deskripsi :
- Memiliki rambut hitam agak panjang dan dibiarkan, tidak pernah disisir
- Bermata hitam cemerlang, meskipun mata itu sering terlihat terpejam
- Wajahnya sering terlihat kusut, dan mengantuk
- Kulitnya berwarna putih
- Memakai kaos putih kebesaran dan celana pendek melebihi dengkul yang kebesaran
- Tidak memakai alas kaki
Kepribadian :
Hanya satu kata yang dapat mendeskripsikannya: pengantuk. Dia terbiasa tertidur setiap saat dan setiap waktu.
Kemampuan :
- Dapat bertarung saat sedang tidur
- Memiliki kekuatan, keseimbangan, kecepatan dan kelincahan saat tidur di atas rata-rata manusia biasa
- Kelihaian memakai senjata tumpul maupun tajam saat tidur
- Membawa tongkat bambu berwarna kuning setinggi dagunya yang ia jadikan sebagai senjata. Dengan mengalirkan kekuatan hara miliknya, dia bisa menjadikan bambu miliknya memiliki daya tebas dan pukul yang luar biasa. Dan tongkat bambu miliknya tidak bisa dihancurkan oleh senjata dan sihir manapun.
- Kemampuan teleportasi saat terjaga maupun terlelap
Kelemahan :
- Kesulitan saat melawan petarung jarak jauh
- Bambunya adalah senjatanya
- Ayolah, dia hanya manusia biasa dan dia sedang tidur, apa susahnya, hah?
Realms :
Kerajaan Dokrem yang kini berada di penjara dimensi
Kehidupan Sebelum Bertarung
Sapker
adalah pangeran, pangeran malas tentunya. Dia diharap-harapkan akan
menjadi penerus takhta kerajaan, tapi melihat kebiasaannya, membuat
sepupunya, pangeran Alrd digadang-gadang akan menjadi penerus takhta.
Tapi, Sapker tidak pernah ambil pusing, karena dia memaknai hidup untuk
bermalas-malasan.
Tapi rupanya Alrd adalah seorang yang
ambisius, seorang pangeran yang ingin menjadi raja, secepatnya. Meskipun
dia telah menjadi calon kuat menjadi raja di kemudian hari. Hingga
akhirnya, dia merencanakan akan membunuh raja pada acara pesta ulang
tahun kerajaan dan secara serta merta merebut kursi raja dan menobatkan
diri sebagai raja.
Malam itu, pada malam ulang tahun
kerajaan, semua bergembira, penuh tawa. Pihak kerajaan, pihak bangsawan,
maupun pihak rakyat jelata bersuka ria, bersama, di aula kerajaan.
Bahkan Spker pun gembira, bersama yang lain di aula, dalam tidurnya.
Lalu tiba-tiba gelap.
Segerombolan
sosok hitam, yang lebih hitam dari malam, menyusup ke kerumunan.
Menebas satu per satu kepala-kepala penjaga, dan ksatria.
Suara
kepala yang putus dari badannya, sontak membuat semua orang menjerit,
ketakutan. Memberisiki Sapker yang sedang menikmati tidurnya.
Tapi kegelapan membuatnya bingung, dan jeritan membuatnya panik. Lalu tangan-tangan hitam menariknya, membawanya secara paksa.
"Apa yang...?
"Hei Keluarkan!
"Mau dibawa ke mana aku?
"Siapa kalian?
"Kalian dengar tidak? Hei tuli. Jawab aku! Aku ini pangeranmu!"
Tapi mereka hanya diam, membisu. Bukannya menjawab, mereka malah memilih membuat Sapker pingsan.
---
Perlahan
kesadaran Sapker muncul. Dan seketika itu juga, dia menemukan dirinya
sedang berada dalam ruang tidur dengan dinding terbuat dari bambu.
Beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka dan masuklah seorang pria tua
bersama sejumlah laki-laki bertelanjang dada.
"Kau sudah sadar rupanya, Pangeran?" tanya si pria tua.
"Yah, baru saja. Kau siapa?"
"Aku
adalah Gorje, mantan panglima yang berada pada pesta kerajaan tadi
malam. Dan mereka..." katanya seraya memunggungi Sapker dan menunjuk
sejumlah lelaki bertelanjang dada. "...yang menyelamatkan nyawamu dari
kudeta pangeran Alrd."
Sapker tercekat.
"Dan
aku, meskipun telah pensiun, tapi aku masih mengemban kewajiban negara.
Oleh karena itu,..." ujar Gorje sambil membalikkan badannya. "...aku
akan melatihmu, dan merebut kembali takhta!"
Dan latihan keras pun dimulai.
---
Setelah
dua bulan berlalu, Sapker telah mengaktifkan indera ketujuhnya, yaitu
indera yang senantiasa aktif walau saat dia dalam keadaan tidur, dan
menjadikan kewaspadaannya mencapai tingkat di atas rata-rata manusia
biasa. Dan dengan usaha keras, akhirnya dia berhasil meningkatkan
kemampuan fisik dan kekuatan hara yang mampu disalurkan pada bambu
kuning miliknya, yang satu-satunya material yang mampu menjadi perantara
bagi kekuatan hara-nya.
Dan tinggal saatnya untuk merebut
kembali singgasana kerajaan. Meski dia enggan. Padahal Gorje telah
melatih Sapker, hingga Sapker bisa memerintah negara dalam keadaan
tidur, dalam keadaan yang di mana Sapker merasa nyaman, tanpa pernah
berbuat atau memutuskan sesuatu di luar kehendak hati dan rasionya.
Tak ada pilihan lain bagi Sapker, selain menjatuhkan Alrd, sepupunya sendiri.
Dan medan pertempuran pun menunggu.
---
Apa yang kau harapkan dari pertempuran?
Suara dentingan-dentingan antara pedang?
Teriakan para penebas dan yang tertebas?
Ekspresi marah dengan cacian-cacian kotor?
Ah,
semuanya muncul dan telah terjadi di belakang punggung Sapker. Kini dia
berhadapan langsung dengan Alrd, lawan yang dinanti-nantinya.
"Jadi,
sekarang seorang pemalas hendak menggonggongi singgasana raja, hah?"
tanya Alrd lalu diikuti suara tawanya yang membahana ruang singgasana
raja.
"Aku menuntut balas kematian ayahku!" Lalu Sapker
berlari menuju Alrd, dan Alrd pun menyongsong kedatangan musuhnya, teman
semasa kecilnya.
---
"SIAAAALLLL!" Teriakan Sapker,
teriakan kesal, serta putus asa. Dia kelelahan, tubuhnya penuh luka.
Sedangkan api mengelilingi ia, dan lawannya masih cukup bugar untuk
menggerakkan sedikit kapaknya, sehingga membakar Sapker hingga gosong.
""Sepertinya
apa yang terjadi padamu, akan sama seperti apa yang terjadi pada
ayahmu, pada rajamu, yaitu MATI DI TANGANKU!" Sekali lagi tawa Alrd
terdengar, dan kali ini adalah tawa kebanggaan.
"Tidak akan kubiarkan.
"Tidak akan...
"TIDAK
AKAN KUBIARKAN KAU MENCEDERAI RAKYATKU!" Sapker bangkit dari tempatnya
terpuruk oleh serangan Alrd tadi, dan bergegas menuju ke lawannya.
Alrd
hanya menyeringai dengan senyum sinis. Dan senjata mereka berdua pun
bertubrukan, bersamaan dengan hadirnya cahaya biru menyilaukan
menyelimuti semuanya.
---
"Di-di mana aku?"
"Kau berada di batas dimensi. Pertarungamu hebat."
"Eh? Siapa kau? Tunjukkan wujudmu!"
"Tenang. Semua baik-baik saja."
"Apanya yang baik-baik saja? Mana Gorje? Mana Alrd? Di mana negeriku!?"
"Tenanglah. Alrd telah kau kalahkan. Dan negerimu baik-baik saja. Kau pangeran, pahlawan, sekaligus raja sekarang..."
"Eh? Lalu?"
"Lalu sekarang kau bisa membebaskan negeri. Tapi sayangnya..."
"Sayangnya?"
"Negerimu dan rakyatmu terpenjara di penjara dimensi. Itu artinya kau harus memilih."
"Memilih apa!? Kau siapa!? Berani-beraninya pada raja!"
"Hahahaha....
Aku ada penulis, penciptamu. Dan kau dengan kekuatanmu sendiri telah
memenjarakan negerimu. Jika kau ingin mengembalikan duniamu ke
kenyataan, kau harus bertarung di Battle of Realms dan menang, hingga
kau bisa meminta secuil realitas untuk negerimu di Realitas Emas...."
----
Dan
sejak itu si penulis mendaftarkan Sapker menjadi peserta Battle of
Realms. Tapi, Sapker harus membagi kesadarannya. Antara kesadarannya
saat memerintah di negerinya yang sedang di penjara dimensi, dengan
kesadarannya saat di Battle of Realms. Sehingga dia akan terlelap di
negerinya, dan terjaga di Battle of Realms, dan begitu juga sebaliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar