Mahesa Werdaya
18 | Laki-laki | Manusia Awatara
By : Panglimaub
18 | Laki-laki | Manusia Awatara
By : Panglimaub
DESKRIPSI FISIK :
- Penampilan
- Postur tubuh sedang
- Rambut potong rapi warna hitam
- Warna mata : coklat tua
- Tinggi : 170 cm.
- Busana:
- Kaos berkerah warna putih
- Jaket Tim Nasional Panahan warna merah dengan paduan garis putih pada pinggirnya.
- Celana jeans hitam atau celana training warna hitam.
- Aksesoris :
- Gelang logam kuning tembaga di tangan kanan
- Arloji komunikasi berlayar sentuh di tangan kiri
KEPRIBADIAN :
- Kelihatan angkuh karena ‘stress’ akibat sering ikut pelatihan atlet sehingga sering lupa bagaimana cara komunikasi yang baik dan benar.
- Tidak gampang percaya pada orang karena sejak usia 6 tahun sudah ditinggal mati ayahnya yang seorang jurnalis dan ibunya mengajari dia untuk percaya hanya pada dirinya sendiri.
- Gampang naik darah tapi gampang juga reda emosinya.
- Paling malas disuruh belajar Matematika dan IPA.
- Butter hand kalau di hadapan cewek cantik.
- Pantang mundur walau sudah tahu bakal kalah.
- Ambisius
PROFESI :
- Mahasiswa tahun pertama di sebuah Universitas (Jurusan : Manajemen).
- Atlet panahan, perwakilan Indonesia untuk Olimpiade 2115.
- Awatara Abimanyu.
BIOGRAFI :
Bogor, Tahun 2093
“Mereka
sudah datang, kalian cepat pergi!” Hariwangsa membimbing istri beserta
anaknya yang baru berusia 6 tahun keluar dari apartemen mereka. Di luar
hujan deras tengah mengguyur kota itu – seperti biasa. Tiga orang itu
berjalan dengan terburu-buru ke arah pintu keluar darurat.
“Siap berbasah-basah?” Hariwangsa berpaling pada istrinya yang hanya menjawab dengan anggukan.
“Ayah, kita mau ke mana?” tatapan polos putra semata wayangnya menatap lurus ke arah Hariwangsa.
Hariwangsa berlutut sejenak dan menatap mata anaknya dalam-dalam, “Kita akan pergi … dari kota ini.”
“Tapi … kenapa?”
“Karena …,” belum sempat Hariwangsa menyelesaikan kata-katanya, sebuah seruan segera membuyarkan pembicaraan mereka.
Hariwangsa langsung bangkit dan mendorong anaknya ke dekapan istrinya, “Isna! Bawa Mahesa pergi! Aku akan menahan mereka!”
“Hati-hati, Mas!” dan perempuan itu langsung berlari keluar, berlari dalam selubung hujan.
“Kau!”
pria yang menghardiknya tadi langsung mencabut medali yang menggantung
di lehernya. Empat pria lain yang turut bersamanya juga melakuka hal
serupa. Masing-masing medali berubah menjadi sebuah gada.
“Mati kau, Arjuna!” sang pria itu segera memutar-mutar gadanya dengan ekspresi mengancam.
Tapi
Hariwangsa tidak peduli, didekapnya sebuah gelang perunggu di tangan
kanannya lalu sejenak kemudian berubahlah gelang itu menjadi sebuah
busur panah berwarna kuning tembaga. “Ayo maju!” katanya.
*****
Wanita
itu terus berlari menembus lebatnya hujan, menyeberangi jalanan yang
sepi oleh kendaraan, melintasi taman yang lengang tanpa pengunjung –
sambil terus mencoba menenangkan anaknya yang sedari tadi berontak.
“Mahesa
mau sama ayah! Mahesa mau sama ayah!” demikian anak itu meronta-ronta
dengan hebat sehingga wanita bernama Isnani itu harus membagi
konsentrasinya, antara terus berlari dan menenangkan putra semata
wayangnya itu. Suara ribut anak itu pastinya akan menarik perhatian dan
celakanya jika sampai para pengejar itu menemukan mereka …, maka
habislah sudah.
“Mau ke mana, Nyonya Cantik?” tiba-tiba
suara seorang pria yang dikenalnya membuat dirinya merasa seluruh
pembuluh darah di tubuhnya membeku. Dipalingkannya wajahnya ke arah
datangnya suara itu dan didapatinya seorang pria yang kehadirannya
sangat tidak ia harapkan.
“Rodrakarma!”
“Terkejut?”
“Mau apa kau?”
“Mengubah takdir!”
“Setan!”
“Aku?
Setan? Mungkin! Tapi bahkan setan pun berhak hidup, bukan? Aku mencari
hidup, dan karena untuk hidup itulah … anakmu itu harus mati!”
“Tidak akan pernah!”
“Ayolah, Subadra! Kenapa kau lindungi anak seperti dia?”
“Kau pikir seorang ibu akan menyerahkan anaknya begitu saja untuk dibunuh orang lain?”
“Baiklah!”
pria itu segera menghunus sebilah pisau yang terselip di balik jas
hujannya, lalu tanpa ba-bi-bu lagi langsung berlari ke arah Isnani yang
langsung berlari lebih kencang daripada sebelumnya.
“He! Wanita yang menarik,” Rodrakarma menjilat bibirnya sesaat sebelum mempercepat laju larinya.
Jarak
antara Isnani dan pengejarnya sudah semakin dekat. Lima langkah … empat
langkah … tiga langkah … dan Rodrakarma meloncat untuk menerkam
buruannya, pisaunya diarahkan ke leher mulus wanita itu. Tapi sebelum
pisau itu sempat mengenai korbannya, sebuah pedang telah merintangi laju
pisau itu.
“Bangsat! Siapa kau?” Rodrakarma langsung
bersalto mundur dan mengambil posisi kuda-kuda, sementara di hadapannya
kini berdiri seorang pria seukuran dirinya, wajahnya tertutup syal hitam
dan matanya tak terlihat di balik kacamata hitamnya.
Rodrakarma
mengayun-ayunkan pisaunya ke kanan dan ke kiri, sejenak memamerkan
kelihaiannya bermain pisau dan dengan cepat segera melesat maju ke arah
lawannya. Tapi dengan kecepatan yang luar biasa, lawannya itu langsung
menebas Rodrakarma hingga kepalanya putus dan menggelinding di jalan.
Pria itu menoleh ke arah Isnani,“Nakula sudah menunggumu! Sebaiknya Mbakyu cepat-cepat ke sana.”
“Suamiku masih di sana! Menghadapi Laskar Pralaya!”
“Biar Kakang Bratasena yang urus mereka! Kalian, cepat lari!”
*****
Surakarta, Tahun 2094
“Bagaimana kabar Mahesa?” seorang pria berdiri di hadapan seorang wanita yang tak lain adalah Isnani.
“Sudah mulai bisa melupakan persoalan malam itu.”
“Apa yang kau katakan soal ayahnya?”
“Aku katakan ayahnya sedang bertugas di luar negeri. Meliput medan perang sehingga ia tidak akan pulang untuk beberapa lama.”
“Dan ia percaya?”
“Saat ini ya. Tapi aku tidak tahu bagaimana jadinya jika ia semakin besar nanti.”
“Oh ya, bisa panggilkan Abima … – maksudku Mahesa?”
“Kenapa?”
“Aku hendak memberikan ini,” pria itu menyodorkan sebuah gelang perunggu berukir kepada Isnani, “Astra Sarotama milik Arjuna.”
KEMAMPUAN DAN SENJATA:
- Astra Sarotama (Sudah bisa digunakan lagi)
Di
tangan kanannya terdapat gelang logam berwarna kuning tembaga berukir
(ala Jepara) yang selalu dibawa ke mana-mana dan tidak pernah dilepas
(meskipun ia sedang mandi). Dalam keadaan tertentu gelang ini akan
berubah menjadi busur panah berwarna kuning tembaga. Busur ini tidak
dilengkapi anak panah namun jika Mahesa mendekatkan tangannya ke busur
ini akan tercipta sebuah anak panah. Tipe anak panah yang bisa ia
ciptakan antara lain:
- Panah biasa : tarik, lepas, melesat langsung ke sasaran
- Panah rantai : saat ditembakkan, anak panah ini akan berubah menjadi rantai dan membelit musuh
- Panah Ayatana : bentuknya seperti anak panah biasa, tapi ada semacam hulu ledak di ujungnya. Daya ledaknya bervariasi antara daya ledak petasan hingga daya ledak granat. Semakin besar energi yang dikeluarkan Mahesa, semakin besar daya ledaknya.
Ujung busur Sarotama
yang cukup tajam serta bahan pembuatnya yang dari logam yang cukup
keras, membuat busur ini bisa dijadikan alat defensif jika ia terjebak
dalam pertarungan jarak dekat.
- Kamandaka A-4
Dunia
tempat Mahesa tinggal (dalam hal ini RI) sedang dilanda pemberontakan.
Gerakan separatis Laskar Pralaya tidak jarang menculik dan menghabisi
para atlet yang bertanding ke luar negeri. Untuk mengatasi hal ini,
setiap atlet dibekali sebuah pistol bermagasin 12 peluru produksi PT.
Pindad, bernama Kamandaka A-4. Kaliber pistol ini 9 mm dan setiap atlet
yang pernah mengikuti Pelatnas (berapapun usianya) wajib menguasai
penggunaan senjata ini.
- Cakram Candraputra (Sudah tidak bisa digunakan)
7000
tahun yang lalu ia hidup sebagai Abimanyu, titisan putra Dewa Bulan
sekaligus cucu Bathara Indra. Ia dapat membentuk sebuah cakram di salah
satu tangannya untuk dilempar ke arah musuh. Cakram ini mampu memutuskan
leher musuh dan membelah sebongkah batu andesit menjadi dua bagian.
*UPDATE*
Mahesa sudah menggunakan senjata ini di preliminary.
- Jangkah Agya
Saat malam datang atau saat dalam kondisi gelap tanpa cahaya, pergerakan Mahesa melonjak drastis.
- Penembak jitu
Sebagai
atlet panahan tingkat nasional, ia sudah biasa menembak sasaran yang
bergerak ataupun sasaran yang ada di kejauhan sekalipun, tanpa alat
bantu sama sekali. Dari 100 kali uji coba menembak, ia hanya meleset 18
kali.
- Triwikrama : Pasopati (tidak bisa digunakan lagi)
Panah
yang dimiliki Arjuna pada saat Bharatayudha. Anugerah dari Sang Hyang
Siwa. Karena Arjuna sudah mati, senjata-senjata miliknya jatuh kepada
kedua anaknya. Gandewa jatuh pada Bayu Sutawijaya dan Pasopati pada
Mahesa.(Kemampuan ini belum dikuasai oleh Mahesa). Pasopati adalah panah
yang tidak pernah meleset dan memiliki daya hancur yang mampu
memporak-porandakan satu peleton prajurit atau memenggal kepala orang.
KELEMAHAN :
- Bisa dilukai dengan cara biasa, toh pada dasarnya ia tetap manusia.
- Mudah naik darah dan kalau sudah begitu pasti ia melakukan kesalahan fatal.
- Tidak terlalu mahir dalam pertarungan jarak dekat.
- Mudah terbujuk oleh rayuan cewek cantik (oh yah … ia mata keranjang dan terkadang sedikit mesum, persis ayahnya).
- Cakram Candraputra hanya bisa digunakan 1 kali dalam setahun.
- Tanpa Jangkah Agya, pergerakannya hanya secepat manusia normal. Gerakannya bisa saja diprediksi oleh mata seorang petarung ahli.
- (UPDATE) Efek menggunakan Pasopati tanpa ritual dan latihan yang tepat membuat Mahesa saat ini tidak lebih dari atlet panahan biasa yang punya kemampuan menggunakan senjata api.
REALMS : Arcapada – 2115 AD
KEHIDUPAN SEBELUM TURNAMEN :
Kita
adalah putra-putra Arjuna. Panah adalah kawan kita, awan mendung adalah
perisai kita. Kau dan aku saudara satu ayah tapi beda ibu, dan aku
membencimu karena itu, tapi aku juga tak akan biarkan mereka membunuh
dirimu begitu saja!
(Bayu Sutawijaya)
Setelah
gagal mengalahkan lawan terberatnya di PON, Bayu Sutawijaya, sehingga
ia hanya berhasil menggondol medali perunggu – Mahesa merasa dirinya
sudah harus berhenti dari dunia olahraga panahan dan fokus ke sekolah,
tapi tiba-tiba KONI memanggilnya untuk bertanding di Olimpiade Vancouver
selepas ia lulus SMP. Alasan pemanggilannya adalah : Bayu Sutawijaya
menghilang dari rumahnya, tampaknya diculik. Pemegang medali perak, Faiz
Hamizan juga menghilang dari rumahnya, sehingga untuk menggantikan
posisi pemegang medali emas dan medali perak itu di Olimpiade, KONI
memutuskan mengirim Mahesa untuk mewakili Indonesia di kejuaraan memanah
tingkat dunia itu.
Keberangkatannya di Bandara
Soekarno-Hatta hingga sampai di Vancouver sama sekali tidak menemui
masalah atau hambatan. Tapi ketika H-1 sebelum pertandingan dimulai,
sesudah upacara pembukaan, seorang pengawal atlet memasuki ruang
gantinya dan menodongkan senjata ke arahnya. Pria itu membantai seluruh
atlet yang ada di ruang ganti itu beserta seorang pengawas dari KONI.
Mahesa berhasil melarikan diri dan lari dari gedung asrama itu. Tapi
keberuntungan sedang tidak berpihak padanya, sekumpulan orang berhasil
mengepungnya. Ketika ia berteriak minta tolong, seorang polisi Kanada
menghampiri mereka, tapi seorang dari kelompok misterius itu menembak
kepala polisi itu hingga polisi itu rubuh.
Empat pucuk
pistol sudah tertodong ke arahnya, sementara ia sendiri menarik
Kamandaka miliknya yang jelas-jelas tidak akan seimbang melawan empat
pria bersenjata itu. Tapi ketika ia merasa sudah siap untuk mati empat
pucuk anak panah melesat dan menembus kepala keempat pria itu. Ketika ia
menengok untuk melihat siapa penolongnya, ia melihat Bayu Sutawijaya
sudah berdiri di kejauhan.
“Ha?” Mahesa hanya
terbengong-bengong saja melihat rival abadinya itu tiba-tiba
menolongnya, “Bukankah komite bilang kau menghilang?”
“Menghilang? Bukan menghilang! Tapi melarikan diri!”
“Melarikan diri dari tanggung jawab sebagai anak bangsa?” ejek Mahesa.
“Melarikan
diri untuk terus hidup … dari kejaran mereka,” Bayu menunjuk ke arah
pintu asrama atlet dan tampaklah pria yang tadi membantai para atlet di
ruang ganti sudah menemukan Mahesa, dengan berlari-lari ia menenteng
sepucuk pistol di tangan kanannya. Ketika ia bersiap menembak, sepucuk
anak panah menembus tangan kanannya dan membuat dirinya menjatuhkan
pistolnya.
“Jauhi adikku, Jayadratha! Atau kau akan
menyesal!” ucap Bayu penuh nada ancaman sebelum sebuah kabut asap
menutupi dua pemuda itu.
“Irawan!!! Lagi-lagi kau!!!!”
jerit pria yang dipanggil Jayadratha itu keras-keras. Diambilnya
pistolnya yang tadi terjatuh tapi ketika ia menengok ke tempat di mana
Bayu dan Mahesa tadi berdiri, kedua remaja itu sudah menghilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar